Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak fluktuatif pada perdagangan pagi ini, Selasa (6/1/2026). Pada pembukaan perdagangan, IHSG sempat berada di level 8.890,721 sebelum bergerak naik-turun dan akhirnya terkoreksi tipis.
Berdasarkan data RTI hingga pukul 09.11 WIB, IHSG melemah 5,092 poin atau 0,06 persen ke posisi 8.854,099. Pergerakan indeks diwarnai aksi jual dan beli yang relatif seimbang di tengah sentimen global dan domestik.
Tercatat sebanyak 256 saham emiten melemah, sementara 295 saham menguat dan 160 saham lainnya stagnan. Nilai transaksi sementara mencapai Rp3,844 triliun dengan volume perdagangan sebanyak 9,188 miliar saham.
Head of Retail Research BNI Sekuritas, Fanny Suherman, menilai IHSG berpotensi mengalami koreksi wajar pada perdagangan hari ini. “Diperkirakan support IHSG berada di rentang 8.780–8.800 dan resist IHSG di kisaran 8.880–8.900,” ujar Fanny dalam analisis hariannya.
Riset harian BNI Sekuritas mencatat IHSG pada perdagangan sebelumnya, Senin (5/1), ditutup menguat 1,27 persen. Namun, penguatan tersebut disertai aksi jual bersih (net sell) investor asing sebesar Rp9,98 miliar. Saham-saham yang paling banyak dilepas asing antara lain BUMI, MEDC, BBRI, EMAS, dan JPFA.
Dari eksternal, sentimen global relatif positif. Indeks-indeks saham Wall Street ditutup menguat signifikan pada perdagangan Senin (5/1), meskipun Amerika Serikat melancarkan serangan militer ke Venezuela dan menangkap Presiden Nicolas Maduro. Pelaku pasar menilai langkah tersebut tidak akan memicu konflik geopolitik yang meluas dan mengganggu stabilitas pasar global.
Indeks Dow Jones Industrial Average melonjak 1,23 persen, S&P 500 menguat 0,64 persen, dan Nasdaq Composite naik 0,69 persen.
Sementara itu, bursa saham Asia juga mayoritas menguat. Indeks Nikkei 225 Jepang melonjak 2,97 persen, Hang Seng Hong Kong naik tipis 0,03 persen, Kospi Korea Selatan melesat 3,43 persen, Taiex Taiwan menguat 2,57 persen, dan S&P/ASX 200 Australia naik tipis 0,1 persen.
Di sisi lain, harga minyak bergerak volatil seiring investor mencermati dampak geopolitik dari langkah AS di Venezuela serta menantikan rilis data ekonomi penting pada pekan perdagangan penuh pertama tahun ini.
Dikutip dari metrotvnews.com