Harga minyak dunia naik tipis pada perdagangan Kamis waktu setempat (Jumat WIB) seiring investor mencermati perkembangan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran yang berpotensi mencegah konflik militer di Timur Tengah. Kenaikan tersebut namun dibatasi oleh peningkatan persediaan minyak mentah Amerika Serikat (AS).
Mengutip Yahoo Finance, Jumat, 27 Februari 2026, harga minyak mentah Brent berjangka—patokan internasional—naik 0,2 persen menjadi USD70,84 per barel.
Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) sebagai acuan pasar domestik AS menguat 0,15 persen menjadi USD65,52 per barel.
Negosiasi AS-Iran Jadi Perhatian Investor
Awal pekan ini, harga Brent sempat menyentuh level tertinggi sejak 31 Juli setelah Washington memindahkan aset militer ke Timur Tengah guna menekan Iran agar kembali bernegosiasi terkait program nuklir dan rudal balistiknya.
Analis Fujitomi Securities, Toshitaka Tazawa, menyatakan bahwa pelaku pasar kini fokus pada kemungkinan apakah konflik militer dapat dihindari melalui jalur diplomasi.
Menurutnya, apabila permusuhan benar-benar terjadi namun bersifat terbatas dan berlangsung singkat, harga WTI berpotensi melonjak sementara di atas USD70 per barel sebelum kembali turun ke kisaran USD60 hingga USD65 per barel.
Premi Risiko Masih Membayangi
Analis dari ING menilai hasil putaran terbaru diskusi nuklir akan menjadi faktor penentu arah harga minyak global.
Jika tercapai resolusi yang konstruktif, pasar diperkirakan secara bertahap akan mengurangi premi risiko hingga sekitar USD10 per barel yang saat ini telah diperhitungkan dalam harga.
Sebaliknya, apabila pembicaraan gagal, risiko kenaikan harga tetap terbuka. Namun, pasar kemungkinan akan menahan reaksi penuh hingga skala potensi tindakan AS terhadap Iran menjadi lebih jelas.
Di sisi lain, kenaikan persediaan minyak mentah AS menjadi faktor pembatas penguatan harga karena menunjukkan pasokan domestik yang relatif memadai.
Secara keseluruhan, harga minyak dunia naik tipis namun tetap bergerak volatil, dengan arah selanjutnya sangat bergantung pada dinamika geopolitik dan hasil negosiasi AS-Iran.
Dikutip dari metrotvnews.com