Harga Minyak Global Menguat Tipis, Pasar Menanti Isyarat Redanya Ketegangan AS–Iran

Harga Minyak Global Menguat Tipis, Pasar Menanti Isyarat Redanya Ketegangan AS–Iran

Harga minyak mentah dunia pada perdagangan Jumat waktu setempat atau Sabtu WIB tercatat mengalami kenaikan tipis di tengah tanda-tanda meredanya risiko konfrontasi militer langsung antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Mengutip Yahoo Finance, Sabtu, 7 Februari 2026, harga minyak mentah Brent diperdagangkan di level USD68,09 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berada di posisi USD63,95 per barel. Kedua harga acuan tersebut sedikit menguat dibandingkan penutupan perdagangan Kamis.

Secara keseluruhan, harga minyak telah mencatatkan kenaikan selama tujuh minggu berturut-turut. Tren positif ini sebagian besar didorong oleh kebijakan luar negeri Amerika Serikat di berbagai kawasan dunia yang memicu ketidakpastian pasokan energi global.

Isu nuklir Iran sejauh ini menjadi salah satu faktor pendorong utama pergerakan harga minyak. Presiden AS sebelumnya mengancam akan melakukan serangan terhadap Iran jika negara tersebut tidak bersedia menghentikan program nuklirnya.

Pada Jumat, kedua pihak menggelar pembicaraan di Oman. Namun, seperti dicatat Reuters dalam laporan sebelumnya, pertemuan tersebut belum menghasilkan kesepakatan mengenai agenda pembahasan, sehingga ketidakpastian masih membayangi pasar.

Ketegangan di Timur Tengah yang melibatkan Iran tetap menjadi faktor risiko utama bagi harga minyak, terutama mengingat posisi strategis Iran yang menguasai Selat Hormuz. Jalur pelayaran ini merupakan salah satu rute terpenting bagi distribusi minyak global, dan potensi gangguan di kawasan tersebut dapat memicu lonjakan harga.

Meski demikian, Iran belum pernah menutup Selat Hormuz. Sejumlah analis menilai langkah tersebut kecil kemungkinannya terjadi karena akan merugikan ekspor minyak Iran sendiri serta tidak akan berlangsung lama mengingat kuatnya kehadiran militer AS di kawasan tersebut.

Selain Iran, analis dari ING juga menyoroti faktor lain yang berpotensi memengaruhi harga minyak, yakni dinamika politik di Irak. Negara tetangga Iran tersebut tengah menghadapi ketegangan dengan AS terkait kandidat perdana menteri berikutnya.

Para politisi Irak dilaporkan lebih condong mendukung Nouri al-Maliki, namun AS menilai al-Maliki memiliki kedekatan dengan Iran. Presiden AS bahkan disebut mengancam Baghdad dengan konsekuensi tertentu jika al-Maliki terpilih sebagai perdana menteri, yang pada akhirnya turut menambah sentimen geopolitik di pasar minyak global.

Dikutip dari metrotvnews.com