Harga minyak dunia mencatat pelemahan pada Selasa, 17 Februari 2026, seiring fokus pasar terhadap perkembangan negosiasi dua konflik geopolitik terbesar dunia, yakni antara Amerika Serikat dan Iran serta Rusia dan Ukraina. Pelaku pasar menilai potensi meredanya ketegangan dapat mengurangi premi risiko pada harga energi global.
Dikutip dari Investing.com, Rabu (18/2/2026), harga minyak Brent berjangka untuk pengiriman April turun 1,8% menjadi USD67,39 per barel. Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berjangka melemah 0,8% ke level USD62,22 per barel.
Pergerakan WTI juga dipengaruhi oleh hari libur di Amerika Serikat pada Senin, sementara sejumlah negara Asia, termasuk Tiongkok, masih dalam periode libur.
Fokus utama pasar tertuju pada diplomasi intensif di Jenewa, Swiss. Pertemuan antara pejabat tinggi AS dan Iran membahas aktivitas pengayaan nuklir Teheran, sementara negosiasi Rusia-Ukraina juga berlangsung dengan mediasi AS.
Laporan dari Bloomberg News menyebutkan bahwa AS dan Iran telah mencapai kemajuan dalam pembicaraan mereka. Menteri Luar Negeri Iran, Seyed Abbas Araghchi, menyatakan bahwa kedua pihak telah menyepakati prinsip-prinsip panduan untuk melanjutkan proses menuju potensi perjanjian.
AS juga disebut menunggu proposal rinci dari pemerintah Iran dalam dua minggu ke depan guna menjembatani perbedaan posisi kedua negara.
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump mengatakan akan terlibat secara tidak langsung dalam diskusi tersebut, meski belum memberikan rincian lebih lanjut.
Perkembangan diplomatik ini dinilai berpotensi meredakan risiko gangguan pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah. Sebelumnya, pasar memperkirakan premi risiko lebih besar akibat potensi eskalasi konflik.
Di sisi lain, pembicaraan antara Rusia dan Ukraina dilaporkan berlangsung selama sekitar empat setengah jam dan dijadwalkan berlanjut keesokan harinya.
Selain isu geopolitik, pasar juga mencermati kesepakatan perdagangan baru antara AS dan Jepang. Presiden Donald Trump menyatakan bahwa kerja sama investasi senilai USD550 miliar telah diluncurkan.
Investasi tersebut mencakup:
- Tiga proyek minyak dan gas di Texas
- Pembangkit listrik tenaga gas terbesar di Ohio
- Fasilitas mineral penting di Georgia
- Proyek LNG di kawasan Teluk Amerika
Langkah ini dinilai memperkuat dominasi energi AS dan mendorong kapasitas ekspor LNG dalam jangka panjang.
Ekspor Arab Saudi ke Tiongkok Diperkirakan Meningkat
Terdapat indikasi bahwa ekspor minyak mentah Arab Saudi ke Tiongkok akan meningkat setelah penurunan harga resmi jenis minyak andalan Saudi ke level terendah dalam lebih dari lima tahun bagi pembeli Asia.
Analis ING memperkirakan Saudi Aramco dapat mengirimkan 56–57 juta barel minyak mentah bulan depan, naik dari sekitar 48 juta barel sebelumnya.
Jika terealisasi, peningkatan ini dapat menambah pasokan global dan memberikan tekanan tambahan pada harga minyak dalam jangka pendek.
Prospek Harga Minyak ke Depan
Pergerakan harga minyak dalam waktu dekat akan sangat bergantung pada:
- Kelanjutan negosiasi AS-Iran
- Hasil pembicaraan Rusia-Ukraina
- Kebijakan perdagangan dan tarif AS
- Perubahan pasokan dari Arab Saudi
- Dinamika permintaan global, terutama dari Tiongkok
Jika diplomasi menghasilkan de-eskalasi yang signifikan, premi risiko geopolitik bisa semakin menyusut. Namun, ketidakpastian tetap tinggi, sehingga volatilitas harga minyak diperkirakan masih akan berlanjut dalam beberapa pekan mendatang.
Dikutip dari metrotvnews.com