Harga Crude Oil Terkoreksi ke Bawah USD100 per Barel

Harga Crude Oil Terkoreksi ke Bawah USD100 per Barel

Harga minyak dunia mengalami penurunan tajam pada perdagangan Rabu, 8 April 2026, setelah tercapainya kesepakatan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran. Kesepakatan tersebut juga diikuti dengan mulai meningkatnya lalu lintas kapal di Selat Hormuz yang menjadi jalur utama distribusi minyak dunia.

Mengutip data dari Investing.com, kontrak berjangka minyak mentah Brent Crude Oil untuk pengiriman Juni turun 11,9 persen menjadi sekitar USD96,24 per barel.

Sementara itu, kontrak berjangka West Texas Intermediate (WTI) juga mengalami penurunan lebih tajam, yakni sekitar 15 persen menjadi USD95,98 per barel.

Kesepakatan Gencatan Senjata Redakan Ketegangan

Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya mengumumkan penangguhan aksi militer terhadap Iran selama dua minggu. Keputusan tersebut disampaikan hanya beberapa jam sebelum batas waktu yang diberikan kepada Teheran untuk membuka kembali Selat Hormuz.

Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat telah mencapai tujuan militernya dan menyebut Iran telah mengajukan proposal 10 poin yang dapat menjadi dasar kesepakatan yang lebih luas.

Iran juga menyampaikan kesediaan untuk meredakan ketegangan dengan membuka jalur aman bagi kapal yang melintas di Selat Hormuz selama periode gencatan senjata, dengan syarat pelayaran dikoordinasikan dengan otoritas Iran.

Terobosan diplomatik tersebut terjadi setelah upaya mediasi dari Pakistan yang berperan mendorong kedua pihak untuk menghindari eskalasi konflik.

Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt mengatakan tim negosiasi Amerika Serikat akan menuju Islamabad untuk pembicaraan lanjutan. Delegasi tersebut dipimpin oleh Wakil Presiden AS JD Vance, Utusan Khusus Timur Tengah Steve Witkoff, serta pengusaha Amerika Jared Kushner.

Namun demikian, Iran menuduh Israel melanggar kesepakatan gencatan senjata dengan melakukan serangan terhadap kelompok Hezbollah di Lebanon.

Investor Masih Memantau Pasokan Minyak

Ekonom senior di Interactive Brokers José Torres mengatakan pasar saham global merespons positif kesepakatan tersebut meskipun risiko geopolitik masih ada.

Ia menilai harga minyak masih bertahan relatif tinggi karena ketidakpastian mengenai implementasi kesepakatan dan potensi eskalasi konflik di kawasan.

Trump juga menyampaikan bahwa pemerintah AS akan membantu mengurangi kepadatan lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz. Jalur tersebut sebelumnya sempat ditutup selama beberapa minggu akibat ancaman serangan terhadap kapal yang melintas.

Selat Hormuz sendiri merupakan jalur strategis yang menangani sekitar 20 persen distribusi minyak global. Gangguan terhadap jalur ini dapat berdampak besar terhadap pasokan energi dunia.

Kepala ekonom grup di Capital Economics Neil Shearing mengatakan pasar saat ini masih memantau dengan cermat kelancaran distribusi minyak melalui selat tersebut.

Investor Mengamati Dampak Inflasi

Meski harga minyak turun tajam, harga minyak global masih berada jauh di atas level sebelum konflik Iran yang berada di sekitar USD70 per barel.

Kepala ekonom di LPL Financial Jeffrey Roach mengatakan peningkatan pasokan energi dapat membantu meredakan tekanan inflasi global.

Namun, investor tetap mencermati potensi dampak lanjutan dari konflik geopolitik terhadap pertumbuhan ekonomi dan kondisi pembiayaan global.

Pasar juga menunggu rilis data inflasi Amerika Serikat, termasuk laporan indeks harga konsumen (CPI) Maret. Risalah pertemuan Federal Reserve menunjukkan para pembuat kebijakan masih mempertimbangkan kemungkinan pemotongan suku bunga jika dampak lonjakan harga minyak bersifat sementara.