Dari Hobi ke Terapi, Merajut Diminati Generasi Z untuk Redam Stres

Dari Hobi ke Terapi, Merajut Diminati Generasi Z untuk Redam Stres

Citra merajut sebagai aktivitas monoton yang identik dengan kalangan lansia kini mengalami pergeseran signifikan. Di era media sosial, khususnya TikTok dan Instagram, seni mengolah benang justru menjelma menjadi tren baru di kalangan Generasi Z. Tagar #CrochetTok bahkan telah meraup miliaran tayangan, menandakan tingginya minat anak muda terhadap aktivitas merajut.

Bagi generasi muda, terutama di wilayah perkotaan, merajut tidak lagi sekadar kegiatan membuat pakaian hangat. Aktivitas ini dipandang sebagai pelarian kreatif yang estetik sekaligus menenangkan di tengah ritme kehidupan digital yang serba cepat. Gerakan tangan yang berulang dan fokus pada setiap simpul benang diyakini mampu memberikan efek relaksasi, mirip dengan meditasi.

Sejumlah ahli psikologi menilai tren ini sebagai bentuk mindfulness yang efektif untuk membantu mengatasi burnout akibat tekanan pekerjaan maupun studi. Merajut mendorong seseorang untuk melambat, lebih sabar, dan sejenak menjauh dari paparan layar gawai yang intens. Proses ini memberi ruang bagi otak untuk beristirahat, sekaligus menata kembali fokus dan emosi.

Keunikan merajut juga terletak pada kepuasan instan yang dihasilkan. Dari sehelai benang sederhana, seseorang dapat menciptakan benda nyata seperti tas, topi, hingga rompi dengan desain unik. Rasa bangga saat berhasil menyelesaikan karya hand-made menjadi dorongan psikologis positif yang penting bagi kesehatan mental, terutama bagi generasi yang tengah berada dalam masa transisi menuju kedewasaan.

Selain sebagai sarana swaterapi, tren merajut juga dipicu oleh keinginan Generasi Z untuk tampil autentik. Di tengah dominasi produk massal, karya rajut buatan sendiri menawarkan nilai eksklusivitas yang tidak dapat ditiru secara seragam. Hal ini sejalan dengan semangat slow fashion yang kini semakin digemari, yakni pendekatan mode yang lebih berkelanjutan dan bertanggung jawab.

Melalui hobi merajut, anak muda merasa lebih berdaya karena mampu menciptakan produk fesyen sesuai identitas mereka sendiri, sekaligus berkontribusi dalam mengurangi limbah tekstil. Fenomena ini menunjukkan bahwa merajut telah bertransformasi menjadi simbol gaya hidup baru yang menggabungkan kesehatan mental, kreativitas, dan kesadaran lingkungan dalam satu aktivitas sederhana.

Dikutip dari viva.co.id