Kerusakan akibat banjir besar yang melanda sejumlah wilayah di Aceh pada akhir November 2025 tidak hanya berdampak pada infrastruktur fisik, tetapi juga menghantam secara signifikan sumber penghidupan masyarakat.
Hal tersebut terungkap dalam hasil kajian sementara penilaian kerusakan dan kerugian atau Damage and Loss Assessment (DaLA) yang menyoroti besarnya dampak ekonomi rumah tangga pascabencana.
Narasumber kajian, Hendri Yuzal, mengungkapkan bahwa ribuan warga yang selama ini bergantung pada sektor pertanian, perikanan darat, usaha kecil, dan perdagangan lokal kehilangan lahan garapan, ternak, serta peralatan usaha akibat terjangan banjir.
“Kerusakan terparah justru terjadi pada hilangnya tempat dan sumber mata pencaharian masyarakat. Banyak warga tidak lagi memiliki modal untuk melanjutkan aktivitas ekonominya,” kata Hendri Yuzal, Rabu (17/12/2025).
Menurutnya, banjir juga menyebabkan terputusnya akses pasar dan jaringan transportasi, sehingga aktivitas ekonomi rumah tangga diperkirakan terhenti dalam waktu cukup lama. Kondisi ini meningkatkan kerentanan sosial masyarakat terdampak dan berpotensi mendorong kenaikan angka kemiskinan pascabencana.
Hendri menilai, dampak banjir Aceh tahun 2025 menunjukkan pergeseran karakter bencana. Banjir tidak lagi hanya dipandang sebagai bencana hidrometeorologi, melainkan telah berkembang menjadi krisis penghidupan (livelihood crisis) yang membutuhkan penanganan lintas sektor.
“Penanganan tidak bisa berhenti pada fase tanggap darurat. Pemulihan ekonomi masyarakat, dukungan terhadap usaha produktif, serta penguatan perlindungan sosial harus menjadi bagian utama dari strategi pemulihan,” tegasnya.
Ia menambahkan, hasil inventarisasi awal penilaian kerusakan dan kerugian diharapkan dapat menjadi rujukan bagi pemerintah dan para pemangku kepentingan dalam menyusun kebijakan rehabilitasi dan rekonstruksi. Kebijakan tersebut diharapkan lebih berorientasi pada pemulihan kehidupan serta kemandirian ekonomi masyarakat Aceh pascabencana.
Dikutip dari acehinfo.id