Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat pada pembukaan perdagangan Kamis, 9 April 2026, tercatat mengalami pelemahan dan kembali berada di kisaran Rp17 ribu per dolar AS.
Berdasarkan data dari Bloomberg, rupiah berada di level Rp17.030 per dolar AS. Posisi ini melemah sekitar 18 poin atau 0,11 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di level Rp17.012 per dolar AS.
Sementara itu, data dari Yahoo Finance menunjukkan rupiah berada di level Rp17.087 per dolar AS pada waktu yang sama. Nilai tersebut relatif tidak jauh berbeda dari posisi pembukaan perdagangan sehari sebelumnya.
Rupiah Diprediksi Bergerak Fluktuatif
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi memperkirakan pergerakan rupiah pada perdagangan hari ini akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah.
Menurutnya, rupiah diperkirakan bergerak di kisaran Rp17.010 hingga Rp17.040 per dolar AS.
Pergerakan rupiah juga dipengaruhi sentimen global, termasuk pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait situasi geopolitik di Timur Tengah.
Trump menyatakan akan menangguhkan aksi militer terhadap Iran selama dua minggu dan menilai Amerika Serikat telah mencapai tujuan militer utamanya. Pengumuman tersebut disampaikan kurang dari dua jam sebelum batas waktu pukul 20.00 waktu setempat yang sebelumnya dipantau investor sebagai potensi pemicu eskalasi konflik.
Kesepakatan gencatan senjata itu disebut ditengahi oleh Pakistan melalui upaya diplomatik pada menit-menit terakhir. Kesepakatan tersebut juga berkaitan dengan jaminan dari Iran untuk membuka kembali jalur pelayaran di Selat strategis yang menjadi rute sekitar 20 persen distribusi minyak global.
Iran juga mengisyaratkan kesediaan untuk meredakan ketegangan dengan membuka jalur aman bagi kapal-kapal selama periode gencatan senjata, dengan syarat aktivitas pelayaran berkoordinasi dengan otoritas setempat.
Kinerja Pendapatan Negara Dukung Sentimen Pasar
Di sisi domestik, pasar turut merespons positif realisasi pendapatan negara hingga 31 Maret 2026 yang mencapai Rp574,9 triliun.
Realisasi tersebut meningkat 10,5 persen secara tahunan dan setara dengan 18,2 persen dari target dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 yang mencapai Rp3,15 kuadriliun.
Kinerja tersebut didorong oleh pertumbuhan penerimaan pajak pada triwulan pertama 2026 yang menunjukkan tren positif, baik secara bruto maupun neto.
Secara keseluruhan, penerimaan perpajakan tercatat mencapai Rp462,7 triliun atau meningkat 14,3 persen secara tahunan. Nilai tersebut terdiri dari penerimaan pajak sebesar Rp394,8 triliun serta penerimaan dari kepabeanan dan cukai sebesar Rp67,9 triliun.