Fenomena viralitas di media sosial semakin digandrungi masyarakat di era digital. Banyak orang berlomba-lomba menciptakan konten viral untuk menjadi trend setter maupun mengikuti isu yang tengah ramai diperbincangkan. Dalam perspektif Ilmu Komunikasi, fenomena ini tidak sekadar perubahan teknis dalam pola komunikasi, tetapi juga membentuk narasi budaya yang memengaruhi makna, kepercayaan, serta cara berpikir masyarakat kontemporer.
Dosen Ilmu Komunikasi UGM, Dian Arymami, menilai viralitas lahir dari pergeseran ideologi komunikasi di era media sosial. Menurutnya, mood dan style kini menjadi elemen penting dalam penyebaran pesan. Media tidak lagi bertumpu pada argumen rasional semata, melainkan mengandalkan daya tarik emosional yang kuat.
“Emosi tidak lagi bisa diposisikan hanya sebagai reaksi personal, tetapi sudah menjadi cara masyarakat memproduksi dan mempercayai makna, apalagi dalam konteks viralitas di media digital,” ujarnya dalam rilis hasil diskusi publik Kaleidoskop 2025 bertajuk Viralitas Narasi Media Sosial dan Makna Budaya yang Dipercaya.
Viralitas dan Ruang Publik Digital
Dian menjelaskan, media sosial dirancang untuk mengelola perhatian dan emosi publik. Ruang diskusi yang terbentuk pun berbeda dengan konsep ruang publik rasional dalam teori klasik. Ruang viral bekerja melalui simbol, citra, dan representasi yang membangun persepsi kolektif.
Viralitas, menurutnya, tidak selalu menghasilkan perubahan tindakan, tetapi mampu membentuk kepercayaan dan arah berpikir masyarakat. Makna yang beredar di ruang digital tidak pernah tunggal atau stabil, melainkan terus diproduksi dan diperebutkan berbagai kepentingan.
Fenomena ini mencerminkan kondisi late modernism yang ditandai percepatan informasi, fragmentasi pengalaman, serta meningkatnya rasa keterasingan. “Makna selalu bergantung pada hasrat yang muncul dan relasi kuasa yang menyertainya, sehingga viralitas menjadi arena kontestasi makna,” tegasnya.
Perbedaan Viralitas dan Popularitas
Mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi UGM, Daffa Lazuardy Noer Sy, menyoroti pentingnya membedakan viralitas dan popularitas. Ia menjelaskan, viralitas adalah penyebaran konten secara masif dalam waktu singkat dengan pola naik-turun cepat dan digerakkan oleh praktik berbagi pengguna.
Sebaliknya, popularitas dibangun melalui strategi komunikasi terencana dan berjangka panjang, seperti yang dilakukan merek atau figur publik. “Viral itu tidak dirancang untuk bertahan lama, ia bekerja secara cepat dan fluktuatif,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa setiap platform memiliki logika viralitas berbeda sesuai mekanisme algoritma yang diterapkan. Jenis konten yang berpotensi viral meliputi social currency, triggers, emotion, public visibility, practical value, hingga stories.
TikTokifikasi dan Era Algoritmik
Dalam perkembangan 2025–2026, media sosial disebut memasuki fase yang lebih algoritmik, atau dikenal sebagai fenomena TikTokification. Jika sebelumnya relasi pertemanan menentukan arus informasi, kini perilaku pengguna menjadi basis rekomendasi konten.
“Sekarang bukan lagi siapa teman kita, tetapi apa yang kita tonton, kita sukai, dan kita hentikan yang dibaca oleh algoritma,” jelasnya.
Perubahan ini mendorong personalisasi yang lebih tinggi, namun sekaligus mengurangi kontrol individu terhadap paparan informasi.
Literasi Digital sebagai Kunci
Sebagai penutup, Mufti menegaskan bahwa media sosial tidak dapat dipandang sepenuhnya negatif karena pengguna turut terlibat dalam produksi dan distribusi konten. Namun, tanpa kesadaran kritis dan literasi digital, pengguna berisiko terjebak dalam dominasi narasi yang dibentuk oleh desain sistem media itu sendiri.
“Media sosial bukan sepenuhnya buruk, tetapi ketika kita tidak memiliki kesadaran kritis, kita mudah digiring oleh narasi yang sudah dirancang oleh sistemnya,” pesannya.
Diskusi Kaleidoskop 2025 Diskoma UGM menyimpulkan bahwa viralitas perlu dipahami sebagai formasi budaya yang kompleks dan tidak linier. Di tengah percepatan informasi dan ketidakstabilan makna, masyarakat diajak untuk lebih reflektif dalam menyikapi arus viral di media sosial.
Dikutip dari ugm.ac.id