Bursa Saham AS Anjlok Dipicu Kekhawatiran Geopolitik

Bursa Saham AS Anjlok Dipicu Kekhawatiran Geopolitik

Saham-saham Amerika Serikat di Wall Street ditutup lebih rendah pada perdagangan Kamis waktu setempat atau Jumat WIB. Pelemahan ini membuat indeks S&P 500 tercatat stagnan sepanjang tahun 2026, di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik antara AS dan Iran serta rilis data ekonomi yang beragam.

Mengutip Xinhua, indeks Dow Jones Industrial Average turun 267,5 poin atau 0,54 persen menjadi 49.395,16. Indeks S&P 500 melemah 19,42 poin atau 0,28 persen ke level 6.861,89. Sementara itu, Nasdaq Composite terkoreksi 70,91 poin atau 0,31 persen menjadi 22.682,73.

Sebanyak delapan dari 11 sektor utama S&P 500 berakhir di zona merah. Sektor keuangan dan barang konsumsi non-esensial memimpin penurunan masing-masing 0,86 persen dan 0,53 persen. Di sisi lain, sektor utilitas dan industri mencatatkan kenaikan 1,13 persen dan 0,77 persen.

Ketegangan AS-Iran Dorong Harga Minyak

Harga minyak mentah melanjutkan kenaikan di tengah kebuntuan terkait program nuklir Iran. Presiden AS Donald Trump menyatakan Iran memiliki waktu 10 hingga 15 hari untuk mencapai kesepakatan terkait program nuklirnya. Pernyataan tersebut meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap risiko geopolitik di Timur Tengah.

Pergerakan Saham Emiten Besar

Saham Walmart turun 1,38 persen meski melaporkan pertumbuhan penjualan fiskal mencapai USD713,2 miliar. Angka tersebut sedikit di bawah pendapatan tahunan Amazon sebesar USD716,9 miliar, menandai pertama kalinya Amazon melampaui Walmart sebagai perusahaan dengan pendapatan tahunan terbesar.

Saham Carvana merosot hampir 8 persen setelah gagal memenuhi ekspektasi profitabilitas kuartalan. Sebaliknya, saham DoorDash naik 1,62 persen berkat proyeksi belanja pengguna yang lebih tinggi dari perkiraan analis.

Saham-saham teknologi raksasa bergerak beragam di tengah laporan bahwa OpenAI hampir merampungkan putaran pendanaan senilai USD100 miliar. Apple turun hampir 1,5 persen, sementara Nvidia, Alphabet, Microsoft, Meta, Amazon, dan Tesla mencatatkan perubahan moderat.

Data Ekonomi AS Beragam

Biro Analisis Ekonomi AS melaporkan defisit perdagangan barang mencapai USD1,24 triliun pada 2025, naik 2,1 persen dibanding tahun sebelumnya.

Sementara itu, klaim pengangguran awal untuk pekan yang berakhir 14 Februari turun menjadi 206 ribu, berkurang 23 ribu dari pekan sebelumnya setelah penyesuaian musiman.

Pelaku pasar kini menantikan data inflasi lanjutan, termasuk indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) bulan Desember yang akan dirilis Jumat waktu setempat. Perkembangan geopolitik dan indikator ekonomi tersebut akan menjadi penentu arah pergerakan Wall Street selanjutnya.

Dikutip dari metrotvnews.com