Rupiah Alami Pelemahan Terbatas, Bertengger di Rp16.866/USD

Rupiah Alami Pelemahan Terbatas, Bertengger di Rp16.866/USD

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali mengalami pelemahan pada pembukaan perdagangan Kamis, 15 Januari 2026, setelah sempat menguat pada sesi sebelumnya. Tekanan eksternal dari sentimen global masih menjadi faktor utama pergerakan mata uang domestik.

Mengutip data Bloomberg, hingga pukul 09.39 WIB rupiah berada di level Rp16.866,5 per dolar AS. Posisi ini melemah tipis 1,5 poin atau sekitar 0,01 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di level Rp16.867 per dolar AS.

Sementara berdasarkan data Yahoo Finance, rupiah pada waktu yang sama tercatat di level Rp16.866 per dolar AS, turun 11 poin atau 0,07 persen dari posisi sebelumnya di Rp16.855 per dolar AS.

Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi memprediksi pergerakan rupiah pada hari ini akan cenderung fluktuatif, namun tetap berpotensi ditutup melemah. Ia memperkirakan rupiah bergerak dalam rentang Rp16.860 hingga Rp16.890 per dolar AS.

Menurut Ibrahim, tekanan eksternal masih cukup kuat, meskipun data inflasi Amerika Serikat memberikan ruang bagi spekulasi pelonggaran kebijakan moneter ke depan. Data indeks harga konsumen AS yang dirilis pada Selasa menunjukkan inflasi berada di bawah ekspektasi. Inflasi inti tercatat naik 0,2 persen secara bulanan dan 2,6 persen secara tahunan pada Desember.

Kondisi tersebut memperkuat ekspektasi pasar terhadap potensi penurunan suku bunga Federal Reserve di masa mendatang. Saat ini, pasar memperkirakan sekitar dua kali pemangkasan suku bunga sepanjang 2026.

Selain faktor moneter, risiko geopolitik global juga menjadi perhatian pelaku pasar. Iran dilaporkan mengalami peningkatan protes anti-pemerintah yang telah menewaskan sekitar 2.000 orang, sehingga memicu kekhawatiran terhadap stabilitas kawasan Timur Tengah.

Situasi ini diperburuk dengan pernyataan Presiden AS Donald Trump yang memperingatkan kemungkinan tindakan militer dan ancaman pengenaan tarif sebesar 25 persen terhadap negara-negara yang tetap berbisnis dengan Iran. Trump juga mendorong tekanan terhadap kepemimpinan Iran melalui pernyataan di media sosial.

Di sisi lain, pasar juga mencermati isu independensi bank sentral AS setelah pemerintahan Trump membuka penyelidikan kriminal yang melibatkan Ketua Federal Reserve Jerome Powell. Meski demikian, sejumlah kepala bank sentral dan pimpinan bank besar secara terbuka menyatakan dukungan terhadap Powell dan menekankan pentingnya menjaga independensi The Fed dari tekanan politik.

Dari dalam negeri, pemerintah optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat mencapai 5,4 persen pada tahun mendatang. Bahkan, target pertumbuhan hingga 6,0 persen dinilai masih memungkinkan. Defisit anggaran ditargetkan turun menjadi 2,7 persen terhadap produk domestik bruto, dibandingkan realisasi tahun sebelumnya sebesar 2,82 persen.

Meski begitu, sejumlah ekonom menilai defisit berpotensi berada di kisaran 2,8 hingga 3,0 persen dari PDB, seiring tantangan perlambatan pertumbuhan pendapatan negara dan berlanjutnya reformasi belanja pemerintah.

Pertumbuhan pendapatan negara diperkirakan berada di level satu digit, namun tetap ditopang oleh peningkatan konsumsi dan investasi domestik serta peluang dari kenaikan harga komoditas global. Dari sisi belanja, realisasi berpotensi lebih rendah dari target, khususnya pada pos transfer ke daerah, sejalan dengan penyesuaian kebijakan pelaksanaan anggaran.

Jika Anda ingin versi singkat untuk breaking news pasar atau judul khusus SEO Google Discover, saya bisa menyesuaikannya.

Dikutip dari metrotvnews.com