Curah Hujan Tinggi Picu Banjir, 2.172 Hektare Sawah di Jepara Terendam

Curah Hujan Tinggi Picu Banjir, 2.172 Hektare Sawah di Jepara Terendam

Banjir yang melanda Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, tak hanya merendam permukiman warga, tetapi juga ribuan hektare sawah. Data terbaru mencatat sebanyak 2.172 hektare lahan pertanian di 13 kecamatan terdampak banjir, dengan sebagian besar tanaman padi masih berusia sekitar satu bulan dan baru memasuki musim tanam pertama (MT-1).

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Jepara, Mundhofir, mengatakan data luas lahan terdampak masih terus berubah seiring cuaca ekstrem yang melanda wilayah tersebut. Hujan deras disertai angin kencang membuat debit air di area persawahan terus meningkat.

“Data per hari Senin, 12 Januari 2026 pukul 13.25, ada 2.172 hektare lahan pertanian di 13 kecamatan yang terendam banjir,” kata Mundhofir, Rabu, 14 Januari 2026.

Mundhofir merinci wilayah terdampak, yakni Kecamatan Kalinyamatan seluas 597 hektare, Donorojo 297 hektare, Welahan 268 hektare, Mayong 232 hektare, Kedung 239 hektare, dan Keling 158 hektare. Sementara di Pecangaan 108 hektare, Nalumsari 92 hektare, Mlonggo 65 hektare, Bangsri 60 hektare, Kembang 30 hektare, Jepara 25 hektare, dan Batealit 1 hektare.

Ia menambahkan, hingga kini belum ada laporan banjir di Kecamatan Nalumsari, Karimunjawa, dan Pakis Aji. Banjir terjadi akibat tingginya debit air dari limpasan saluran irigasi dan jebolnya sejumlah tanggul.

“Kita menunggu tiga hari ke depan, harapannya air bisa surut sehingga padi masih bisa tumbuh. Selama tiga hari air bisa surut, tidak tergenang, dan tidak busuk, insyaAllah tanaman padi aman,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Desa Kuanyar, Khomsatun, menyebut banjir juga merendam sekitar 100 hektare lahan pertanian di wilayahnya. Tanaman padi yang terendam masih tergolong muda dan baru memasuki musim tanam pertama.

“Ada seratus hektare lebih yang terendam banjir. Usianya sekitar satu bulan, baru masuk MT pertama ini,” kata Khomsatun.

Banjir ini menjadi perhatian serius petani dan pemerintah setempat, mengingat risiko gagal panen tinggi jika debit air tidak cepat surut. Warga berharap penanganan dan mitigasi segera dilakukan agar tanaman padi dapat tumbuh normal.

Dikutip dari metrotvnews.com